Monday, 4 January 2016

BELAJAR 5 MINGGU DI AMERIKA SERIKAT

Tidak terasa bahwa program belajar 5 minggu di Amerika Serikat sudah selesai (26 September -31 Oktober 2015). Program yang aku impi-impikan selama ini sudah terjadi di dalam hidupku. Banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai kembalinya ke tanah air semuanya berjalan dengan baik tanpa kekurangan sesuatu apapun. Aku percaya bahwa ini semua berkat dukungan dan doa dari orang-orang yang selalu ada untuk aku. Aku bersyukur bisa mendapatkan semua ini. Terima kasih semuanya!


Setelah transit beberapa jam di Jepang, aku melanjutkan penerbangan ke Denver International Airport. Semangat yang luar biasa membuatku merasa tidak lelah selama perjalanan menuju negeri Paman Sam ketika itu. Kota pertama yang menjadi destinasi pertamaku di Amerika adalah Denver. Karena aku harus transit sekali lagi untuk tiba di kota tujuan yaitu Omaha, Nebraska. Ketika tiba di Denver, aku masih belum percaya kalau aku sudah berada di Amerika. Oh..seperti mimpi rasanya. Aku langsung mengambil foto walaupun dengan wajah agak kusam ketika itu. Aku langsung unggah ke sosial media dan mengucap syukur bahwa akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di negeri Paman Sam tersebut.




Hingga pada akhirnya tibalah di kota tujuan di mana aku akan menimba ilmu dan pengalaman. Omaha nama kotanya. Nama kota yang sangat asing bagiku. Belum pernah sama sekali aku dengar sebelum mendapatkan pengumuman bahwa aku akan ke kota itu. Tiba di penginapan malam hari dan langsung istirahat. Karena belum ada jadwal untuk pagi harinya, aku langsung berangkat ke kampus untuk melihat dan menjelajahi kampus. Tidak sabar rasanya merasakan belajar di kampus bersama orang-orang yang memiliki latar belakang yang jauh berbeda dari Indonesia. Hingga pada akhirnya bisa melihat kampus terbaik di kota itu. Iya, University of Nebraska Omaha adalah kampus terbaik di tempat ini. Bangga bisa menjadi salah satu bagian darinya.

Setiap mahasiswa di kampus yang menjadi rangking pertama untuk permainan Hockey di USA ini disebut dengan Mavericks. Jadi, aku adalah salah satu dari Maveriks tersebut. Yay! Kampus yang sangat berbeda dengan kampus yang pernah aku kunjungi di negaraku sendiri. Begitu banyak fasilitas kampus yang bisa digunakan secara gratis. Beberapa diantaranya yang sangat terkenal adalah fasilitas perpustakaan yang lengkap, fasilitas kesehatan, GYM, kolam renang, climbing, badminton, basket, dan banyak lagi fasilitas olahraga lainnya yang ada di kampus. Semua gratis dengan dengan menggunakan MavCard atau kartu mahasiswa. Pantesan aja pada sehat-sehat semua ya. Hehe. Selain itu, perbedaan yang sangat menonjol adalah mereka bisa menggunakan kaos oblong dan celana pendek ke kampus ataupun ke dalam kelas. Sehingga, dalam pemikiranku setelah selesai olahraga bisa langsung masuk kelas. Yah, mungkin inilah salah satu perbedaan budaya antara Indonesia dan Amerika.

Oh iya, aku bersama dengan 20 pemimpin muda dari 9 negara ASEAN lainnya memiliki semangat yang sama dan ingin menimba ilmu di sana. 9 negara tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Laos, Cambodia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.  Jadi kami ada 21 orang. Kami menjadi sebuah keluarga baru yang bersama-sama datang ke Amerika untuk belajar dan ingin mengembangkan negara masing-masing supaya menjadi lebih baik. Energi positif dari setiap keluarga baru inilah yang membuat aku semakin menggebu-gebu untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ketika berada di salah satu negara adi kuasa ini. Setiap hari memiliki pemikiran dan perkembangan yang baru dari setiap individu dan saling menyemangati satu sama lain.

Dimulai dengan perkenalan kepada teman-teman dari ASEAN dan para mentor adalah awal pertama kegiatan di Omaha, Nebraska, USA. Setiap detik waktu sangat berharga bagiku karena aku hanya memiliki waktu 5 minggu saja di negara ini. Walaupun awalnya masih agak jet lag, tapi harus tetap focus pada setiap penjelasan yang diberikan oleh pihak panitia di sana. Perkenalan dan ramah ramah kami lakukan sambil bermain bowling dan makan pizza bersama. Semua berjalan dengan lancar dan tidak ada yang canggung saat itu. Semua langsung berbaur satu sama lain. Rasanya bahagia banget diterima dengan baik dan ramah oleh orang-orang di sana. 


Minggu pertama setelah perkenalan dosen, staff dan keliling kampus, kami memiliki kesempatan untuk melakukan test strengths finder di kantor pusat Gallup, Inc. Sebagai seorang pemimpin kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahan kita. Tetapi focus dan kembangkanlah kekuatan kita. Itulah hal yang paling penting dari tim Gallup yang sudah berpengalaman dibidangnya sejak puluhan tahun lalu. Aku sangat bangga bisa langsung berkunjung, melakukan test, dan bertemu langsung dengan senior konsultan dari Gallup yang sudah memiliki pengalaman luar biasa pada bidang ini. Kalau mau test sendiri mungkin aku harus mikir dulu karena biayanya lumayan mahal. Selain itu, tidaklah mudah untuk bertemu, belajar, dan berdiskusi secara langsung dengan senior konsultan yang aku temui ketika itu. Namanya adalah Mrs. Heather Wright, Learning and Development Senior Consultant for Gallup, Inc. Tidak hanya dengan beliau, kami juga memiliki kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan penulis buku yang baru saja diterbitkan tentang Entrepreneurial Strength Finder yaitu Mrs. Sangeeta Bharadwaj Badal. Dari test ini, kami mengetahui potensi apa yang harus dikembangkan dari kami untuk menjadi pemimpin yang lebih baik kedepannya.


Minggu pertama juga kita sudah mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat menarik, diantaranya adalah mengunjungi Old Market, mengunjungi Durham Western Heritage Museum, menghadiri Global Studies Conference yang berhubungan dengan topik civic engagement dan mengunjugi Fort Atkinson Living History. Aku banyak belajar tentang sejarah Amerika dari kunjungan ke tempat-tempat tersebut. Mulai dari kegiatan-kegiatan yang ada di sana dan sukarelawan yang ada di Fort Atkinson. Orang Amerika sangat mencintai sejarah dan senang sekali berkunjung ke museum. Museum di Amerika sangat bagus dan membuat aku terkagum-kagum. Inilah salah satu perbedaannya dengan Indonesia.




Belajar mengenai civic engagement di kelas bersama dosen yang ahli di bidangnya menjadi salah satu agenda yang aku suka. Aku belajar banyak mengenai leadership, management skills, government system, politics, interfaith dialogue, conflict resolution, volunteerism, NGOs, youth participation dan lainnya dari beberapa professor di kampus yaitu Mr. Patrick McNamara, Mr. Paul Landow, Mr. Val McPherson, dan yang selalu mengkoordinir setiap jadwal maupun segala kepentingan adimistrasi yaitu Mrs. Katie Kresha. Kemudian mendapatkan kesempatan belajar bersama dengan international students di kelas. Mambahas tentang ASEAN dan kami menjadi narasumbernya secara langsung. Aku bangga bisa mempresentasikan dan menjelaskan tentang Indonesia kepada mahasiswa internasional di sana. Banyak dari merka yang kagum dan ingin sekali mengunjungi Indonesia setelah kami jelaskan mengenai kehidupan, budaya, makanan, dan objek wisata di Indonesia.




Tidak hanya belajar dari dosen saja, tetapi langsung dengan tokoh yang berperan penting dalam sistem pemerintahan di Omaha dan Nebraska mereka adalah Captain Shayna Ray (Omaha Police Department), Mayor Jean Stothert (Walikota perempuan pertama di kota Omaha), City Council President Ben Gray, U.S. Representative Brad Ashford, Hal Daub (Former Omaha Mayor) dan Mr. John A. Gale (Nebraska Secretary of State). Mereka banyak menjelaskan tentang tantangan dan bagaimana cara menyelesaikan tantangan tersebut. Salah satunya adalah dengan pola pikir yang baik dan benar. Karena kejujuran sangat mahal harganya. Bekerjalah dengan jujur, maksimal, dan tulus hati untuk masyarakat serta kebaikan orang banyak. Hal ini yang membuat aku merasa sangat dibutuhkan oleh bangsa kita. Bekerja dengan tulus dan iklas untuk kepentingan bersama. Sehingga tidak ada lagi korupsi yang merajalela. Mementingkan kepentingan bersama dan saling membantu satu sama lain. Sistem yang mereka miliki sangat baik. Salah satu contohnya adalah tidak adanya nepotisme dan tindakan kecurangan di dalam kepemimpinan mereka. Ketika ada yang melanggar, tanpa memandang jabatan atau status apapun akan langsung dipecat. Karena mereka tidak membutuhkan orang-orang yang tidak benar. Kami juga memiliki kesempatan bertemu dengan Hillary Clinton di Iowa.



Kemudian kita juga mengunjungi tempat-tempat yang benar-benar memberdayakan anak-anak, para pemuda dan orang-orang sekitar untuk saling membantu dalam berbagai hal. Diantaranya adalah dalam bentuk pendidikan dan pemberdayaan. Tempat-tempat tersebut adalah Boys Town, Habitat for Humanity, Malcolm X Birthsite Memorial, and Boys and Girls Club. Kemudian kita juga langsung melakuan aksi nyata dengan berbagai ketgiatan sukarelawan di Omaha maupun di Iowa. Melakukan aksi kecil tetapi memiliki manfaat yang besar bagi sesama. Salah satu contohnya adalah yang aku lakukan bersama beberapa mahasiswa lain yaitu membantu petugas di Habitat for Humanity untuk memindahkan barang-barang bekas layak pakai yang akan digunakan oleh orang-orang kurang mampu yang membutuhkan dari satu tempat ke tempat lain. Para petugas di sana sangat senang karena mereka bisa melakukan pekerjaan lebih dari sebelumnya. Kegiatan ini menjadi kegiatan favoritku karena aku sangat senang dengan volunteerism atau sukarelawan sejak dulu. Aksi nyata yang bisa dilakukan tanpa membutuhkan dana yang besar untuk mengimplementasikannya. Mulailah dari hal yang kecil.





Di luar jadwal kunjungan dan kelas atau materi, kami juga memiliki waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang lain seperti mengikuti acara Ramen Festival yang selalu dilakukan oleh masyarakat di Omaha setiap tahunnya. Sangat banyak yang datang ke acara ini dan untuk menikmati ramennya kita harus mengantri panjang. Selain itu, kami juga merayakan Halloween Party di rumah salah satu mentor. Untuk pertama kalinya aku merasakan pesta Halloween. Senang dan terharu karena kebaikan dan keramahan semua orang di sana. Kemudian, pihak hotel tempat kami tinggal juga mengadakan perlombaan untuk menghias pumpkin. Jadi benar-benar merasakan adanya Halloween pada  saat itu. Padahal Halloween biasanya dirayakan pada tanggal 31 Oktober. Tetapi, karena kami tidak memiliki waktu hingga tanggal tersebut, maka kami adakan lebih awal.








Di waktu yang lain, kami juga memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung perbatasan antara Iowa dan Nebraska. Pedestrian Bridge namanya. Jadi, di jembatan itulah perbatasan antara 2 states yaitu Iowa dan Nebraska. Aku berdiri di 2 States dalam waktu yang sama. Tepat di bawah jembatan itu adalah sungai Missouri. Bahagia rasanya! Kemudian, kami melakukan kujungan ke kampus Tri-Faith namanya. Dikatakan Tri-Faith karena terdiri dari 3 agama yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Jadi kampus ini juga merupakan kampus yang terkenal untuk interfaith. Selain itu, untuk pertama kalinya aku berbicang dengan Rabai (pemimpin agama Yahudi) dan menginjakkan kaki di Synagogue (rumah ibadah agama Yahudi). Pengalaman baru karena aku belum pernah bertemu dengan orang yang beragama Yahudi di Indonesia.




Pengalaman yang tidak kalah menarik adalah ketika homestay di salah satu keluarga asli Amerika. Kami homestay di Scott bluffs, Nebraska. Sekitar 8 jam dari Omaha tempat kami tinggal dengan menggunakan  bus. Aku merasakan kebahagian yang luar biasa ketika orangtuaku di sana menganggapku sebagai anaknya walaupun baru pertama bertemu dan hanya tinggal 2 hari saja di sana. Aku tinggal di rumahnya dan merasakan kehangatan sebuah keluarga baru. Rasa rindu kepada keluarga di Indonesia sedikit terobati. Aku merasakan bagaimana budaya hidup bersama dengan keluarga Amerika. Mereka sangat open-minded, memiliki jiwa peduli yang tinggi dan sangat menghargai satu sama lain. Lagi-lagi mereka banyak bertanya tentang Indonesia dan mereka ingin sekali berkunjung ke Indonesia. Wah, bahagia rasanya bisa terus mempromosikan Indonesia. Bahkan mereka bilang silahkan datang ke sini kapanpun kamu mau. Pintu selalu terbuka untukmu. Jangan ragu dan jangan sungkan. Anggap saja ini rumah kamu. Terharu luar biasa ketika mendengar kata-kata itu. Aku bilang suatu saat aku akan datang ke sini lagi dan aku juga memberikan tawaran kepada mereka untuk datang ke Indonesia.






Kami juga memiliki kesempatan untuk berkunjung dan belajar sejarah lagi ke beberapa tempat yang sangat indah dan bersejarah lagi yaitu Scotts Bluff National Monument di Gering Nebraska dan Gunung Rushmore South Dakota USA. Gunung Rushmore adalah gunung terkenal di Amerika Serikat tepatnya berada di dekat South Dakota. Di permukaan granit Gunung Rushmore terdapat ukiran terbesar empat kepala presiden Amerika Serikat, yaitu George Washington (1732–1799), Thomas Jefferson(1743–1826), Theodore Roosevelt (1858–1919), dan Abraham Lincoln (1809–1865). Seorang Denmark-Amerika, Gutzon Borglum mengukir kepala tersebut di Gunung Rushmore.  






Setelah banyak belajar tentang kepemimpinan, budaya, sejarah dan lainnya di Nebraska, maka pada minggu keempat kami berangkat ke Portland, Oregon. Transit di Minneapolis-St. Paul International Airport dan menambah daerah Amerika yang bisa dilihat walaupun hanya sekedar transit. DI Portland, kami memiliki jadwal tentang kepemimpinan di Portland State University. Kampus terbaik di Portland. Bertemu dan belajar langsung dengan dosen dan beberapa mahasiswa dari Portland State Univesrity. Setelah selesai kelas, kami juga memiliki kesempatan untuk sharing session dengan organisasi yang focus pada pemberdayaan dan volunteerism di kampus tersebut. Saling belajar antara kedua belah pihak. Kemudian diakhiri dengan makan bersama.








Setelah itu, kita memiliki kesempatan untuk mengeksplore Portland. Di sinilah aku baru menyadari bahwa ternyata tidak semua warga Amerika itu mampu dan hidup mandiri ataupun mewah. Di Portland ini ternyata banyak aku temui orang yang tidak punya rumah (homeless) dan agak menyeramkan juga. Tetapi untungnya tidak menggaggu. Ketika aku tanyakan kepada dosen dan mentor tentang homeless ini, mereka menjawab bahwa inilah salah satu tujuan kita membawa kalian ke sini supaya kalian juga tahu sisi yang buruk dari Amerika. Jadi Amerika itu juga bukan orang-orang yang sepenuhnya mampu secara financial. Kita juga masih belajar dan berusaha bagaimana cara mengatasi masalah ini. Jadi, sebagai pemimpin muda untuk negara kalian harus berusaha melakukan yang terbaik dan jangan menilai langsung dari sisi depannya saja. Harus melakukan observasi lebih dalam untuk mendapatkan hasil yang baik dan maksimal. Kemudian kita berkunjung dan melihat keindahan alam di Bonneville Dom, Multnomah Falls, dan Colombia River. Di Portland ini jugalah aku temukan kebun bunga mawar yang sangat indah dan toko buku terbesar dan terlengkap selama aku hidup di dunia ini. Aku sangat senang sekali ketika bisa berkunjung ke took buku tersebut. Semoga suatu saat Indonesia akan memiliki toko buku seperti itu.









Setelah beberapa hari di Portland, maka tibalah saatnya kami berangkat ke tempat tujuan akhir yaitu Washington, DC. Kesedihan sudah mulai terlihat di mata setiap peserta karena sebentar lagi akan segera berpisah dan kembali ke negaranya masing-masing. Setibanya ke Washington DC, kami juga sudah memiliki jadwal yang sudah terencana. Menghabisakan waktu untuk belajar dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sana. Tempat-tempat yang kami kunjungi adalah American History Museum, National Air & Space Museum, Natural History Museum, U.S. Capitol,  the Library of Congress, Lincoln Memorial, Martin Luther King, Jr. Memorial, Washington Monument, White House, dan akhirnya penutupan dan pemberian sertifikat di Department of State.







Sebelum pemberian sertifikat, setiap peserta memaparkan rencana aksi yang akan dilakukan setelah kembali ke negaranya masing-masing. Rencana aksi ini sudah dibahas ketika berada di kampus dan sudah dilakukan pelatihan elevator speech sebelumnya. Jadi setiap peserta tidak canggung lagi dan sudah sesuai dengan waktu yang diberikan.











Walaupun banyak kekurangan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia jika dibandingkan dengan Amerika, tetapi aku tetap bangga menjadi bangsa Indonesia. Terkadang aku sedih jika membandingkannya. Tetapi, inilah kenyataan yang harus aku hadapai. Ini pukulan tersendiri bagiku. Kalau bukan bangsa Indonesia sendiri yang merubahanya, lalu siapa lagi? Inilah yang menjadi tugas kita semua sebagai pemuda yang peduli terhadap bangsa dan tanah air ini. Aku lahir dan dibesarkan di Indonesia dan aku harus melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan. Perubahan sekecil apapun untuk kebaikan bersama. Karena aku percaya bahwa setiap yang besar pasti berasal dari yang kecil terlebih dahulu. Kalaupun aku tidak bisa merubah bangsa ini dalam waktu yang cepat, setidaknya aku bisa merubah diriku dan komunitasku menjadi lebih baik. Sehingga akan semakin banyak orang yang berubah dan berbuat baik demi kepentingan orang banyak. Yang aku pelajari dari setiap kegiatan yang dilakukan selama di sana adalah banyak bersyukur dan berterima kasih bahwa aku masih diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk terus belajar. Belajar dari setiap perkataan, pemikiran, dan tingkah laku orang lain. Belajar dari kemajuan sistem pemerintahan, komunikasi, dan teknologi. Balajar untuk menjaga tingkah laku karena membawa nama bangsa. Belajar dari setiap pengalaman di Amerika menjadikanku ingin sekali mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk bersatu dan bersama-sama membangun bangsa ini menjadi bangsa yang jujur dan adil serta memiliki jiwa kekeluargaan yang tinggi sehingga terciptanya bangsa yang rukun, damai, dan sejahtera. Semua harus dimulai dari diri sendiri. Jangan pernah mengharapakan perubahan kepada bangsa ini jika diri kita sendiri belum bisa berubah.

No comments:

Post a Comment