Friday, 23 May 2014

JANGAN MENYERAH UNTUK MERAIH MIMPIMU!

23 tahun hidup di dunia ini, begitu banyak orang –orang yang sudah aku kenal. Begitu juga dengan jenis watak dan karekaternya. Begitu banyak cerita hidup yang sudah aku dengarkan dari kebanyakan orang-orang. Kebanyakan dari pendengar akan berkata “WOW” ketika sudah pernah ke Amerika ataupun Eropa. Kalau belum ke sana rasanya belum mendapatkan “WOW” tersebut. Hal inilah terkadang yang membuat aku kurang semangat jika bertemu dengan orang baru yang memiliki keinginan untuk bisa ke sana. Ingin rasanya berbagi dan saling menginspirasi, tetapi aku pribadi belum pernah menginjakkan kaki di sana. Sehingga orang-orang juga tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan aku sampaikan. Sedih pastinya sedih. Tapi, apa daya masih tetap berjuang ke sana.

Aku adalah salah satu orang yang ingin sekali bisa menginjakkan kaki di 2 benua tersebut. Bahkan keinginan yang sangat kuat untuk bisa melanjutkan study di negeri Paman Sam tersebut. Tidak tau kapan akan datangnya. Beberapa kali sudah saya apply beasiswa ke sana tapi hasilnya belum juga “CONGRATULATIONS!”.

Terkadang rasanya down banget dan memberontak kepada Yang Maha Kuasa. “Kenapa begini??” itulah pertanyaan yang selalu ada dibenakku kalau sudah menerima announcement dari pihak pemberi beasiswa. Apa salahku? Apa yang aku lakukan? Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul hingga membuat aku menjadi seperti orang yang tidak memiliki iman (terkadang).


Tetapi, banyak hal yang membuat aku semakin matang dengan setiap kegagalan yang ada. Instropeksi diri dan tentunya lebih banyak belajar lagi. Semakin kuat pastinya. Banyak motivasi-motivasi yang menjadikan aku bangkit kembali. Tidak ada jalan yang mudah untuk mencapai kesuksesan. Semuanya ada tantangan dan harus dihadapi. Kalau menyerah maka akan gagal untuk selamanya. Cepat atau lambat, setiap usaha kita akan mendapatkan balasan.

"It does not matter how slowly you go as long as you do not stop." ~ Confucius

Mimpi itu masih ada dan semakin kuat di dalam hati dan pikiran ini. Entah kapan Tuhan akan memberikan jawaban “IYA” kepadaku. Aku masih sabar sembari memperbaiki diri. Seperti kata Andrea Hirata: Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Quote ini juga yang membuat saya untuk tetap bermimpi. Dari mimpi inilah muncul setiap usaha dan perbaikan-perbaikan untuk lebih baik.

Mimpi indahku hingga saat ini adalah bisa study di negeri Paman Sam dan bisa bebagi cerita yang kiranya bisa menginspirasi orang banyak . Terutama para pemuda di negaraku dan kiranya bisa berbakti kepada bangsa dan negara. Membuat suatu perubahan baik yang menjadi contoh bagi generasi-generasi berikutnya.

Saat ini aku masih berjuang dan akan tetap berjuang untuk mencapai mimpi-mimpi indah itu. Amerika..aku akan datang disaat yang tepat. Waktu tepat yang akan Dia berikan kepadaku. Semoga Tuhan berkenan.

Kalimat di bawah ini yang membuat aku lebih menyadari bahwa semuanya akan indah pada waktunya ketika kita mau berusaha dan hidup di jalan yang benar.

Semua keberhasilan besar dalam hidup ini dicapai melalui perilaku yang alamiah.
Engkau tak mungkin menjadi pribadi yang kuat dan melakukan sesuatu yang hebat,
langsung dari keadaan muda yang labil dan emosional.
Engkau harus tumbuh mendamaikan diri dengan kesalahan masa lalumu,
damai dan bangga mengenai dirimu sendiri,
dan yakin namun rendah hati mengenai hakmu untuk berhasil.
Engkau harus tumbuh secara alamiah,
satu langkah demi satu langkah, satu hari demi satu hari;
dan mendapatkan persetujuan dan dukungan dari satu orang demi satu orang.
Tekunkanlah dirimu melakukan yang baik bagi diri dan sesamamu,
abaikanlah komentar sinis dan iri dari mereka yang tak mampu,
tersenyumlah di hadapan kesulitan,
dan rendahkanlah hatimu di hadapan keberhasilan dan pujian.
Itulah yang menjadikanmu pemenang yang alamiah,
yang anggun, dan yang dibanggakan oleh Tuhan.

Thursday, 22 May 2014

Community Driven Development in Indonesia


The AVP is a community-driven development program that provides solar-powered lights to the impoverished village. The program will help students in the area extend their study hours at home, particularly those whose homes are not connected to electricity networks. Meanwhile, their parents will also have an opportunity to improve their welfare.





Religious Tolerance in Kampung Sawah


Kampung Sawah in Bekasi is unique in its Betawi cultural settlement. It is the first Betawi village where residents have diverse religions. Kampung Sawah, some three hours’ drive from Jakarta, is home to the St. Servatius Catholic Church. Since the last century, local residents have been Muslim, Protestant and Catholic.

This diversity deviates from the norm that Betawi people are all Islamic. Although there are different religions, the key to harmony in the village is to maintain kinship. There is a history of religious violence in Kampung Sawah.

Almost adjacent to one another are the Pasundan Christian Church, Servatius Catholic Church and Istiqamah Mosque. And all of them get along peacefully.

If it is Idul Fitri, there are always Protestant and Catholic residents on the celebration committee, same goes for Muslims during Christmas.

If the citizens of the Christian or Catholic Church wear a cap and scarf, they do so as an expression of the original Betawi culture. There is nothing contradictory there to Betawi culture, except to those who do not understand history and rush to prejudice religious identities. Kin relationships are not only through blood relations, but also through marriage. There is crossbreeding among different faiths.

Two weeks ago there was an annual charity event in the St. Servatius Parish of Kampung Sawah that is two decades old.

For the Catholic residents of Kampung Sawah, this is an expression of gratitude to God for blessings extraordinary to them.

The event was not only attended by Catholics but also by those of other religions. “In previous years it has been attended by representatives from every religion here, Catholics, Muslims, Hindus, Protestants and Buddhists,” said William, who is from the St. Servatius Parish.

http://www.thejakartapost.com/news/2014/05/21/citizen-journalism-tolerance-kampung-sawah.html

Monday, 24 March 2014

Alllights Village Project in Sakomakmur, South Sumatera, INDONESIA

Global Peace Foundation (GPF) Indonesia along with Global Peace Youth Corps (GPYC) Chapter Palembang, Sriwijaya University, and Banyuasin Government distributed and installed solar lanterns in Sakomakmur Village, Sembawa District, Banyuasin Regency, South Sumatera.
                                             Global Peace Youth Corps Chapter Palembang

Prior to the distribution, the villagers had very limited activities during night time due to unavailable access to electricity. Therefore, as its commitment to flourish culture of service, GPF Indonesia with several institutions and volunteers conducted an activity called ‘Alllights Village Project’.

Alllights Village Project is a village development program by facilitating solar lanterns in villages with no electricity access. This program is also expected to help local government in developing underdeveloped villages. This sustainable program will have a lamp distribution activity as its initial agenda, followed by educational developmental activities, and local potential development that can improve village’s social and economy condition.

Alllight Village Project in Sakomakmur is the sixth program by GPF Indonesia and the first time conducted beyond Java Island. In this program, there were 13 street lamps installed and 40 house lanterns distributed to families with school-aged children. These lamps can be used in night time without electricity thus it is expected that children can study at night.


 “I am very grateful that we can get the solar lanterns as it will really help our children to study at night,” said Mr. Bonari, the village chief of Sakomakmur Village.


By having these lanterns, GPF believes that children can do their homework at night and extended their study time, which will improve children’s education. Not only that, GPF also believes that Alllights Village Project can flourish the culture of service because basically all human beings are One Family under God.